Butuh

sering dengar nggak sih?
atau mungkin kalian lebih sering mengucapkan?
jika kalian punya teman, pasti kalain tahu atau bakan mengiyakan

Hanya Sekedar

hujan baru redah sedari tadi, tanah yang basah menyeruakan baunya, entah kapan terakhir kalinya musim kemarau, rasa - rasanya tahun ini penuh dengan hujan. tak mengapa sebenarnya dengan hujan, aku suka hujan, hanya saja orang - orang nggak suka klo aku basah, apa lagi DIA, dengan beralasan sakit, melarangku untuk basah oleh hujan, tapi untung saja Dia masih menjadi siapa.

3 bulan

ingin di tulis sebenarnya, eh di ketik ding.
hanya saja jangan lebih baik jangan, biarkan saja tak sempat tertulis yang kemudian jadi lupa. kecuali jika bertemu lagi entah sengaja atau tidak, itu menjadi nggak lupa, bahkan ketika hanya sekedar tersapa "hai".
hal hal yang sudah lupa mendadak secara cepat tiba - tiba datang lagi, termasuk rasa.

Terlambat

"terlambat". Jawabmu singkat
"tidak ada yang terlambat". bantahku lagi

"terlambat". balasmu lagi
"memangnya kapan?". tanyaku memastikan

tidak ada lagi jawaban.



(bukan) Catatan di bulan Agustus

tulisan kali ini akan sangat random, mungkin lebih random dari sebelumnya bahkan lebih renyah dari sebelum sebelumnya. iya arti renyah yang sudah pernah aku jabarkan di caption instagram.

Alam hanya sekedar hutan

apakah alam hanya sekedar hutan?
lalu udara yang aku hirup di kamar ini bukan alam?
lalu tanah yang sudah tertutup semen ini bukan alam?

bahkan kita sudah lancang mengkotak kotakan mana alam mana bukan
bahkan kita terus menggerus yang kita sebut alam untuk tidak lagi menjadi alam

apakah hanya yang liar yang di sebut alam?
bukankah segala yang dibawah langit adalah alam?
lalu cinta alam mana yang kita berikan?
alam seperti apa?

masih saja congkak kita
masih

00.39 WITA

kosong-kosong lewat tiga sembilan waktu Indonesia Bagian Tengah 


masih saja terjaga di malam, menggalau tentang kehidupan,.
untuk apa, mau apa dan ngapain,.
ya kehidupan..
"hanya gitu-gitu aja, tidak begitu menarik"
begitu kata salah satu kawan,.
iya memang ada tidak salahnya
karena memang mungkin keuntukan hidup sudah terkotakan oleh kemasyarakatan,.
kehidupan yang harus begini begitu terbentuk oleh pola masyarakat, kehidupan yang tidak sesuai keberlakuan yang tidak tertulis sebenarnya, sepertinya terpandang dosa, ya minimal terpandang gila,.
atau mungkin orang gila itu tidak gila? tapi orang yang menyebut orang gila itu yang gila menurut orang gila?


Baca Juga

Embun awan #1

Satu persatu barang bawaan yang terbungkus rapi di masukan kedalam tas ransel yang telah dibelinya setahun yang lalu dan jarang dipergunaka...

Paling banyak di baca